NAMA : Andro THG. Damanik
NPM : 28212121
Kelas : 1EB04
NPM : 28212121
Kelas : 1EB04
Jurnal perekonomian dari negara China
Peran MNC terhadap Pertumbuhan Perekonomian Cina
Multinational
Corporations atau MNC adalah perusahaan yang beroperasi di dua atau lebih
negara. MNC menjadi fenomena yang dominan dalam hubungan internasional saat ini
terkait dengan adanya globalisassi perdagangan dan perkembangan perekonomian
dunia. Dalam hal perkembangan perekonomian domestik suatu negara, MNC memiliki
pengaruh yang signifikan sebab keberadaan MNC pada suatu negara menjadi salah
satu penyumbang pajak tertinggi bagi pendapatan suatu negara sekaligus bagi
perkembangan ekonominya. MNC adalah bentuk korporasi baru yang tidak dapat di
hindari sebagai sebuah konsekuensi logis dari adanya globalisasi itu sendiri.
MNC merupakan wujud dari perdagangan modern dimana profit merupakan orientasi
utama dari keberadaan setiap MNC disuatu negara.
MNC itu sendiri sangat erat
kaitannya dengan FDI atau Foreign Direct Invesment sebab MNC merupakan
konkritisasi dari FDI. Dalam prakteknya aliran investasi langsung yang berasal
dari luar negeri selalu tertuju pada negara yang memiliki kelebihan yaitu dalam
segi politik negara tujuan FDI memiliki hukum atau kebijakan pemerintah yang
mendukung adanya FDI dan jaminan bahwa FDI yang mereka tanamkan akan
menghasilkan profit yang tinggi bagi mereka (home country). Sedangkan
dalam segi ekonomi, negara home country yang akan menanamkan
investasinya ke negara-negara host country memiliki pertimbangan utama
pada tersedianya bahan baku yang lebih murah bagi proses produksinya (orientasi
profit) selain itu sumber daya manusia yang melimpah dengan upah yang relatif
lebih murah sebagai patner bisnis yang sangat strategis.
Saat ini, aktor-aktor dalam hubungan
internasional semakin kompleks dan beragam, pemerintah atau negara tidak lagi
menjadi aktor tunggal. Sebaliknya aktor-aktor transnasionalisme terlihat
semakin mendominasi hubungan internasional saat ini. Aktor transnasionalisme
ini semakin masuk tidak hanya dalam ranah politik tetapi juga dalam ranah
ekonomi. Aktor transnasionalisme ekonomi seperti MNC semakin gencar dalam
melakukan ekspansi pasar global dengan memasukkan MNC-MNCnya ke negara-negara
yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Refomasi perekonomian Cina oleh Deng
Xiopeng yang menerapkan sistem ekonomi campuran (sistem ekonomi kapitalis
sosialis) membuat Cina menjadi salah satu tujuan utama
FDI dunia. Bahkan sejak tahun 2006
sampai tahun 2011 investasi asing (FDI) yang masuk ke Cina selalu meningkat dan
berjalan stabil. Besarnya arus FDI yang masuk ke Cina tersebut disebabkan oleh
berbagai faktor yaitu[1]:
1. Sistem
politik Cina yang terpusat satu komando (hanya satu partai pemerintah yang
berkuasa). Dimana pemimpinnya diangkat berdasarkan prestasi serta
kredibilitasnya. Kelebihan sistem satu komando adalah solidnya keputusan yang
diambil untuk dijadikan kebijakan politik. Hal ini menjadikan kondisi politik
kondusif dan solid terkendali. Dalam konteks Investasi Asing, pemerintah Cina
sangat mendukung FDI untuk masuk ke Cina dengan didukung oleh sistem politik
Cina yang stabil serta hukum dan kebijakan pemerintah Cina yang juga mendukung
adanya FDI membuat Cina menjadi tujuan utama FDI di kawasan Asia bahkan dunia.
2. Pemerintah
Cina telah melakukan pembangunan yang berbasis pedesaan, dimana semua
sumberdaya dan modal dikerahkan untuk kemajuan seluruh desa dengan menjadikan
desa-desa tersebut sebagai desa indutri yang memiliki spesialisasi tertentu
sehingga dalam konteks arus FDI yang masuk para investor diuntungkan dengan
adanya spesialisasi yang ada untuk menekan biaya produksi. Sehingga FDI yang
masuk ke Cina selalu meningkat setiap tahunnya.
Dengan alasan tersebut, para investor
asing banyak yang melakukan investasi langsung (FDI) di Cina. Semakin banyaknya
FDI yang masuk ke Cina berakibat pada semakin banyak pula MNC-MNC yang
beroperasi di Cina. Sejak reformasi ekonomi Cina yang menerapkan ekonomi
campuran (sosialis kapitalis) pertumbuhan ekonomi Cina berkembang sangat pesat.
Cina saat ini menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu menyaingi AS. Jepang dan
negara-negara Eropa laiinya.
Rumusan masalah sangat penting untuk
membantu penulis tetap fokus pada masalah yang akan dikaji dan dianalisa.
Rumusan masalah berguna agar penulis memiliki ruang lingkup yang jelas untuk
menganalisa suatu fenomena hubungan internasional. Dalam makalah ini penulis
akan menganalisa bagaimana peran MNC terhadap pertumbuhan perekonomian Cina,
dan apakah MNC di Cina memiliki peran positif bagi pertumbuhan perekonomian
Cina sehingga membawa Cina menjadi negara dengan candangan devisa terbesar di
dunia saat ini.
Reformasi Ekonomi Cina
Sejak kematian Mao Zhe Dong pada
tahun 1976. Kepemimpinan China kemudian dipegang Deng Xiaoping. Pada masa
kepemimpinannya, Deng Xiaoping melakukan kebijakan reformasi melalui sistem
tanggung jawab (Zerenzhi) atau “household-responsibility system”. Dalam sistem
ini setiap pekerja petani tidak lagi bekerja bersama dalam sebuah komune,
melainkan melakukan perjanjian dengan pemerintah administratif setempat untuk
mengerjakan sebidang tanah tanah dan mendapatkan keuntungan langsung. Perlahan,
tapi pasti, perekonomian Cina mengalami peningkatan. Tahun 1982 saja,
Pendapatan petani di Cina mengalami kenaikan sebesar 6,6 persen setahun.
Kebijakan reformasi Deng tersebut
membuat perekonomian Cina akhirnya berkembang pesat dari tahun ke tahun. Pada
tahun 1978-1995, GDP Cina tumbuh 8 persen. Begitu pula dengan tahun berikutnya
yang berkembang begitu pesat. Kemudian, pada tahun 2001 Cina masuk sebagai
anggota WTO. Sejak Cina menjadi anggota WTO perekonomian Cina semakin tumbuh
dan berkembang pesat. Selain itu, pada periode 1978-2008 saja, ekonomi Cina
tumbuh mencapai 9,5 % yang membawa Cina menduduki posisi nomor dua negara
dengan ekonomi terkuat di dunia setelah Amerika Serikat. Bahkan, sejak tahun
2010 kemarin cadangan devisa Cina menempati posisi nomor satu terbesar di dunia
mengalahkan Amerika Serikat.[2]
Kemajuan perekonomian Cina saat ini tidak lepas dari reformasi ekonomi yang
dilakukan pada masa Deng Xiaoping tersebut. Deng membawa Cina ke dalam
reformasi ekonomi yang lebih berorientasi pada pasar (kapitalis) dengan tetap
mempertahankan sistem pemerintahan komunisnya. Saat ini, Cina muncul sebagai
negara super power baru yang dapat menandingi hegemoni Amerika Serikat.
Hubungan Interdependensi Cina dengan MNC
Dari perspektif perusahaan
multinasional atau MNC, China adalah ’world’s factory’ sehingga banyak
sekali perusahaan-perusahaan dunia yang beroperasi di China. Cina memiliki
peran besar dalam dinamika perekonomian global. Cina merupakan salah satu
tujuan utama untuk Foreign Direct Investement global. China secara
konsisten menarik lebih dari $ 50 juta dari investasi luar negeri per tahunnya.
Dalam kacamata interdepensi ekonomi, dimana Cina dianggap sebagai tempat yang strategis
bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya atau mengirimkan MNCnya ke
Cina. Sedangkan bagi Cina sendiri keberadaan MNC merupakan suatu keuntungan
dalam bidang ekonomi dengan semakin banyaknya FDI yang masuk ke Cina.
Seperti yang terjadi pada tahun
2006, Cina menerima lebih dari $ 63 juta dari Foreign Direct Invesment.
Perusahaan-perusahaan investasi luar negeri memainkan peran dalam industri
manufaktur China, lebih dari separuh ekspor China berasal dari foreign-
invested factories yang berproduksi di China. Adanya fakta tersebut semakin
memperjelas hubungan inderdepensi yang terjadi antara MNC sebagai aktor
transnasional dengan pemerintah Cina. MNC-MNC di Cina tetap mendapatkan profit
yang mereka inginkan sedangkan di sisi lain pemerintah Cina juga mendapatkan
kesejahteraan ekonominya dengan rata-rata angka pertumbuhan ekonomi diatas 8%
setiap tahunnya.
Kemudian, pola investasi luar negeri
di China merefleksikan interaksi kompleks dari multiple levels lokasi
dimana sebuah perusahaan multinasional beroperasi. Aliran investasi menunjukkan
jalan terhadap integrasi dari perekonomian nasional di region. China sebagai
basis produksi regional. Dimana proses integgrasi ekonomi yang dijalankan di
Cina telah menyeret aktor-aktor transnasionalisme yaitu MNC, kelompok-kelompok
masyarakat, pengusaha bahkan pemerintah Cina sendiri dalam proses produksi
ekonominya. Hubungan saling timbal balik atau interdepensi ini membuat hubungan
ekonomoni region bersifat lebih kooperatif dan lebih damai.
Liberalisme menekankan investasi
luar negeri dan perdagangan bebas merupakan kunci dari pertumbuhan ekonomi
suatu negara seperti yang dilakukan oleh Cina dengan sangat baik. Terbukti
dengan adanya Zona ekonomi khusus berlokasi di propinsi seperti Hong Kong. Zona
ekonomi khusus ini merupakan sumber investasi utama selama 1980an. Pemerintah
Cina nampaknya paham betul bahwa pertimbangan investasi dunia bukan bersumber
dari bentuk atau sistem apa yang digunakan oleh suatu pemerintahan. Sebaliknya
pemerintah Cina memahami bahwajaminan stabilitas politik dan keamanan serta
kepastian hukum dalam berinvestasi merupakan hal yang harus ada di Cina
sehingga MNC-MNC tersebut memiliki resiko bisnis yang rendah
Selain itu, local economic
cluster merupakan basis ekonomi yang sangat penting untuk China.
Perusahaan-perusahaan yang ada melakukan spesialisasi produk dan kemudian mampu
mendominasi pasar dunia. Contohnya, 80 persen dari korek api metalik berasal
dari Wenzhou, sebuah kota kecil di propinsi Zheijiang. Tidak jauh dari dari
Zheijiang, kota Qiaotou, sekitar 700 kepala keluarga menjalankan perusahaan
yang memproduksi sekitar 15 juta kancing dam 200 juta meter resleting per tahun
– mereka adalah yang terbesar di dunia ( China News Digest 2006; Watts 2005).
Kota Qingxi di selatan Dongguan menspesialisasikan diri pada produksi personal
computer dan telah menjadi bagian penting dalam produksi monitor,
motherboard, keyboard, dan perangkat komputer lanilla. Formasi kluster seperti
ini adalah bagian dari cara yang ditempuh pemerintah Cina untuk meningkatkan
produktivitas desa-desa di Cina sehingga dapat berkembang sebagai industri
manufaktur sederhana. Formasi kluster ini juga memiliki peran yang signifikan
dalam mendukung kinerja MNC di Cina sekaligus bagi pertumbuhan ekonomi Cina.
Sebab, setelah reformasi dijalankan di China, pemerintah pusat memberi
keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk menentukan kebijakannya sendiri dan
memberi mereka insentif fiskal untuk mensukseskan kebijakan tersebut. Hubungan
interdepensi yang terjadi antara pemerintah Cina, rakyat Cina dan MNC sangat
jelas merupakan hubungan yang mutual gains dimana masing-masing pihak sama-sama
mendapatkan keuntungan.
Pengaruh keberadaan MNC sebagai
wujud dari FDI (Foreign Direct Invesment) di Cina terlihat memiliki
peran yang signifikan dalam pertumbuhan perekonomian Cina sejak Cina mulai
membuka diri pada pasar bebas yaitu mulai tahun 1976. Bahkan pada tahun 2004,
MNC sebagai wujud dari Foreign Direct Invesment di Cina semakin banyak.
Seperti yang dikatakan oleh Presiden Hu Jintao dalam forum tahunan konferensi
Boao di Hainan pada tahun 2004 mengatakan bahwa perekonomian China tumbuh
sangat pesat. Menurut Hu Jintao pertumbuhan ekonomi China ini karena investasi
China yang datang dari dalam dan luar negeri dalam jumlah yang luar biasa.
Sebagai contoh, Jika pada 1985
investasi China hanya mencapai $ 1 miliar, maka pada 2002 investasi ini mampu
menembus angka $ 50 miliar lebih. Lewat investasi ini China membangun
perekonomiannya lewat sektor industri, infrastruktur, dan properti. Dari sektor
inilah perekonomian China mampu tumbuh pesat hingga mencapai sekitar 7-8 persen
setiap tahun. Wajar bila Ekonom CSIS (Center For Strategic And International
Studies) Marie Eka Pangestu dalam acara seminar di kantor CSIS mengatakan bahwa
China adalah naga raksasa china yang akan segera menggeser Amerika. [3] Maka, sanga
jelas bahwa FDI dalam wujud
MNC di Cina telah berakibat pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Cina pada tiap tahunnya.
MNC di Cina telah berakibat pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Cina pada tiap tahunnya.
Dampak positif MNC terhadap perekonomian Cina
Balaam dan Vesseth mengemukakan sedikitnya tiga alasan
positif dari keberadaan MNC.
1. Adanya MNC
di suatu negara akan membuka lapangan pekerjaan baru dan mengurangi angka
pengangguran. Transfer teknologi dan sistem manajemen baru akan diperkenalkan
kepada negara tujuan. Hasilnya, adanya peningkatan skill dari tenaga kerja.
Dalam konteks MNC di Cina keberadaan MNC jelas memberikan dampak pada
tersediannya lapangan kerja baru terutama bagi rakyat Cina sehingga secara
otomatis juga mengurasi angka pengangguran di Cina. Selian itu transfer
teknologi dan sistem manajemen baru yang diberikan akan berdampak pada
peningkatan skill dari tenaga kerja itu sendiri.
2. Keberadaan
MNC membangkitkan gairah industri lokal, terutama mereka yang memasok industri
mentah ke MNC tersebut. Dalam hal ini jelas terhilat dengan adanya desa-desa
indutri yang memang digalakkan oleh pemerintah Cina untuk mendukung gairah
pertumbuhan ekonomi Cina melalui kerjasamanya dengan MNC. Itulah sebabnya mengapa
Cina mengeluarkan kebijakan kandungan lokal atas suatu produk yang harus
mencapai ukuran tertentu sehingga dapat menjaga hubungan ekonomi proses
produksi ekonomi. Dengan kebijakan ini, industri lokal akan mampu menghidupi
pekerjanya yang akan bermuara pada pertumbuhan ekonomi domestic Cina sekaligus
memperbesar networking bisnis mereka melalui kerjasama yang dilakukannya
dengan MNC tersebut.
3. MNC di
sebuah negara dianggap mampu menambah penghasilan negara dengan adanya pajak
insentif yang harus dibayar oleh MNC tersebut. Keberadaan MNC di Cina yang
semakin bertambah tiap tahunnya melalui FDI membuat penghasilan Cina meningkat
pada tiap tahunnya. Pendapatan Cina yang semakin meningkat ini membuat Cina
sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia.
Demikian dampak positif dari
keberadaan MNC di Cina, dalam tiga klafisikasi dampak positif tersebut terdapat
hubungan interdepensi antara MNC dan pemerintah Cina. Sehingga jalinan
integrasi yang terbentuk melalui mekanisme perdagangan bebas dan investasi
asing antara Cina dengan MNC tersebut melahirkan suatu hubungan
interdepemdensi. Hubungan interdepensi ini berakibat pada semakin kooperatif
dan semakin damainya tatanan hubungan internasional terutama dalam hubungan
Cina dengan MNC. Sebab baik Cina maupun MNC mendapat keuntungan yang mutual
gains serta win-win solutions bagi permasalahan ekonomi keduanya.
MNC mendapatkan profitnya secara maksimal sedangkan pemerintah Cina telah
menikmati pertumbuhan ekonominya yang berakibat pada meningkatnya kesejahteraan
hidup rakyat Cina.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas,
penulis berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi di suatu negara dapat maju dengan
adanya interdependensi ekonomi dalam suatu negara yang baru berkembang dengan
melakukan sistem liberal ekonomi dalam melakukan kebijakan ekonomi mereka
seperti apa yang telah dilakukan oleh Cina. Analisa ekonomi politik
internasional yang terjadi saat ini tidak dapat dipisahkan dalam melakukan
rencana pembangunan ekonomi yang merupakan keyakinan bulat untuk mencapai
ekonomi pasar yang efisien. Dalam kasus pembangunan ekonomi di Cina, peran
pemerintah Cina dapat melakukan kerjasama yang kompak antara pemerintah, rakyat
Cina dan pengusaha baik dalam level nasional maupun internasional menjadikan
pembangunan ekonomi Cina dapat berjalan dengan cepat dan membuat Cina menjadi
kekuatan ekonomi hegemon saat ini.
Dengan mempelajari gerak ekonomi
China ini dapat digunakan sebagai model baru pembangunan perekonomian yang
dapat menginspirasi pembangunan perekonomian bagi negara-negara lain yang ingin
mengikuti jejak kemajuan ekonomi Cina. Apalagi, bagi negara yang menganut
sistem demokrasi liberal, tetapi berpendapatan per kapita rendah seperti
Indonesia, Filipina, dan Bangladesh. Karena apa yang diajarkan China tetap menyerap
unsur-unsur pokok kapatalisme pasar dengan tetap memelihara nilai-nilai
ideologi sosialisme yang berakar urat dalam tradisi politik. Para
penguasa China nampaknya paham betul mengenai hukum ekonomi kapitalisme pasar,
yakni bagaimana mengakumulasi kapital dan mengeruk keuntungan bahkan untuk satu
dollar investasi sekalipun.
Karena itu, mereka lebih
mengutamakan reformasi kelembagaan pemerintahan-efisiensi birokrasi,
peningkatan mutu pelayanan publik, efektivitas regulasi, akuntabilitas dan
transparansi, penegakan hukum dan perkuatan peradilan, yang lebih dibutuhkan
guna memfasilitasi investasi asing ketimbang demokratisasi. Pemerintah China
yakin, para investor asing lebih memilih jaminan stabilitas politik dan
keamanan serta kepastian hukum dalam berinvestasi ketimbang memilih tipe
pemerintahan: otoriter atau demokrasi.
Selain itu, perlu diingat bahwa
hubungan interdepensi yang terjadi antara MNC dan Cina dalam memajukan
perekonomian Cina tidak lepas dari peran dan control pemerintah Cina terhadap
jalannya proses reformasi ekonomi di Cina itu sendiri. Pemerintah Cina dapat
dengan lihai menggabungkan sistem ekonomi campuran dimana ia tetap
mempertahankan sosialis sebagai ideologi bangsanya tetapi di sisi lain memeluk
kapitalis sebagai agama baru bagi sistem ekonominya. Yang menjadi esensi dari
pertumbuhan perekonomian Cina saat ini adalah peran besar yang dilakukan oleh
pemerintah Cina sebagai basis utama untuk menentukan hubungan integrasinya
dengan MNC dalam ekonomi campuran yang diterapkannya.
Walaupun MNC memiliki peran yang
signifikan dalam pertumbuhan perekonomian Cina, namun penulis yakin MNC- MNC
tersebut tidak akan masuk ke Cina bila pemerintah Cina tidak melindungi
keberadaannya secara hukum. MNC juga tidak akan berani masuk ke Cina kalau
sistem politik dan keamanan Cina tidak stabil. Sehingga sangat jelas terlihat
bahwa hubungan pemerintah Cina dan MNC yang beroperasi di Cina merupakan
hubungan interdepensi yang memiliki nilai mutual gains. Dimana interaksi
antara keduanya berakibat pada semakin luasnya zona damai dalam dunia
internasional saat ini.
Sumber:
Yanuar Ikbar, Ekonomi Politik Internasional 2, 2007. PT. Refika Aditama, Bandung.
http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/30/kenapa-kok-china-bisa-maju/ diakses pada tanggal 17 Maret 2012 pukul 10:24 WIB
Yanuar Ikbar, Ekonomi Politik Internasional 2, 2007. PT. Refika Aditama, Bandung.
http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/30/kenapa-kok-china-bisa-maju/ diakses pada tanggal 17 Maret 2012 pukul 10:24 WIB
Zainurrofiq , 2009, China Negara Raksasa Asia,
Rahasia Sukses China Menguasai Dunia, Yogyakarta: Arruz Media Group, 1st
edition.
David Balaam and Michael Vesseth (2001). Introduction
to International Political Economy. Second Edition. New Jersey: Prentice
Hall
Tidak ada komentar:
Posting Komentar